Kalteng Ibu Kota Paru-paru Dunia

PALANGKA RAYA – Komite Perdamaian Dunia menetapkan Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai Ibu Kota Paru-paru Dunia, di Istana Isen Mulang, Kompleks Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Senin (17/12).


Penetapan ini ditandai dengan penandatanganan prasasti peresmian dan penyerahan sertifikat Kalteng sebagai Ibu Kota Paru-paru Dunia oleh Presiden Komite Perdamaian Dunia Djuyoto Suntani dan Gubernur Kalteng Sugianto Sabran yang diwakili Sekdaprov Kalteng Fahrizal Fitri.


Djuyoto mengatakan paru-paru dunia ada dua, yaitu di Kalteng dan di Amazon. Namun, Ibu Kota Paru-paru Dunia ditetapkan di Kalteng karena hutan di Kalteng dinilai masih cukup terjaga dan udara di daerah ini masih bersih.


Saat disinggung masih maraknya pembukaan hutan di daerah Tambun Bungai, Djuyoto mengatakan justru dengan ditetapkannya Kalteng sebagai Ibu Kota Paru-paru Dunia, diharapkan hutan-hutan di daerah ini semakin terjaga.


Menurutnya, status Kalteng sebagai Ibu Kota Paru-paru Dunia tidak bisa dicabut atau berlangsung selama-lamanya. Untuk itu, hutan di daerah ini harus dijaga dengan baik dan pembukaan hutan yang masih terjadi hingga sekarang, menjadi tantangan untuk mewujudkan pengelolaan hutan seperti yang diharapkan.


“Sehingga orang bisa bersama-sama menjaga hutan. Kalau sudah mendapat predikat (Ibu Kota Paru-paru Dunia), masa tidak dijaga,” tegasnya.


Dia melanjutkan, di dunia sekarang sudah banyak pabrik, rumah kaca, polusi dan sebagainya. Untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, maka dua tempat di dunia, yaitu Kalteng dan di Amazon, Brazil ditetapkan sebagai paru-paru dunia.


Djuyoto menyebut, ada sebuah perusahaan besar di Kabupaten Seruyan yang secara berkala menjual emisi udara kepada dunia, perusahan besar dunia. Seharusnya pemerintah daerah di kabupaten tersebut dapat untung dari itu, dapat royalti karena perusahaan-perusahan besar dunia, seperti Microsoft dan lainnya memberi royalti untuk itu. 


“Kenapa Pemda tidak minta royalti, gede royaltinya, yang dapat justru orang asing. Jadi emisi Kalteng, penjualnya dari Hongkong, pembelinya dari Microsoft dan lainnya, mereka beli udara segarnya itu, mereka berutang budi dengan udara segar, sehingga mereka membayar itu,” katanya. 


Sekdaprov Kalteng Fahrizal Fitri mengatakan ditetapkannya Kalteng sebagai Ibu Kota Paru-paru Dunia adalah sebuah kebanggaan. Seperti diketahui, Kalteng ditutupi hutan tropis, 82 persen dari luas Kalteng adalah sebagai kawasan hutan.


“Inilah kontribusi Kalteng bagi dunia. Semua harus menjaga hutan agar berguna bagi planet ini dan tidak hanya bicara tentang hutan, alam, lingkungannya, dan habitatnya,” ungkap Fahrizal.


Namun ketika bicara tentang planet ini, maka tidak hanya bicara tentang diri sendiri, melainkan tentang keberlangsungan planet ini, keberlangsungan makhluk di planet ini, sehingga harus dipikirkan bersama. dkw